Pendidikan Mahal, Bukan Berarti Tidak Bisa Direncanakan
Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan yang
membutuhkan biaya besar, terlebih di kota besar seperti Jakarta. Sebagai orang
tua, kita tentu ingin memberikan pendidikan terbaik bagi anak. Namun, tidak
semua orang tua memiliki kemampuan keuangan yang cukup untuk membiayai seluruh
kebutuhan pendidikan tersebut.
Lalu, bagaimana caranya agar cita-cita
pendidikan anak tetap dapat diwujudkan?
Salah satu pendekatan yang dapat dipelajari
adalah menggabungkan kemampuan menabung, pemanfaatan aset, pembiayaan melalui
kredit, investasi ORI, dan cash flow management.
Tulisan ini bukan menawarkan cara ajaib untuk
mendapatkan uang. Kita akan membahas sebuah simulasi sederhana dengan asumsi ceteris
paribus, yaitu variabel-variabel lain dianggap tetap agar mekanisme
perencanaannya lebih mudah dipahami.
1.
Pendidikan Anak Membutuhkan Kolaborasi
Apakah seluruh tanggung jawab pendidikan harus
dibebankan kepada orang tua? Apakah anak cukup duduk manis dan mengikuti semua
rencana yang telah dibuat?
Bagaimana jika anak memiliki cita-cita yang
berbeda?
Pendidikan membutuhkan kolaborasi antara orang
tua dan anak. Orang tua perlu menanamkan pentingnya pendidikan, sedangkan anak
perlu memahami kondisi keluarga dan ikut berusaha mewujudkan cita-citanya.
Orang tua juga perlu menentukan pilihan
pendidikan berdasarkan kemampuan keuangan. Sekolah negeri, sekolah swasta, dan
sekolah internasional memiliki kebutuhan biaya yang berbeda. Jika targetnya
adalah kuliah di luar negeri, persiapannya harus dilakukan sejak dini.
Bagi anak yang memiliki prestasi akademik,
olahraga, seni, atau bidang lainnya, beasiswa dapat menjadi alternatif untuk
mengurangi beban biaya pendidikan. Namun, setiap program beasiswa memiliki
persyaratan tersendiri.
Lalu, bagaimana jika anak ingin kuliah di luar
negeri tanpa mengandalkan beasiswa?
Di sinilah perencanaan keuangan orang tua
berperan.
2. Studi
Kasus Om Pinank
Anggaplah Om Pinank memiliki kondisi sebagai
berikut:
- Pendapatan
keluarga: Rp20 juta per bulan.
- Rumah
tinggal: sudah lunas.
- Kendaraan:
Toyota Avanza tahun 2010.
- Istri:
ibu rumah tangga.
- Anak:
dua orang, masing-masing duduk di kelas 1 SMP dan kelas 1 SD.
Om Pinank menargetkan anak pertamanya kuliah
di Singapura dalam enam tahun mendatang. Total kebutuhan pendidikan dan biaya
hidup selama tiga tahun diperkirakan Rp1,5 miliar.
Angka tersebut merupakan asumsi simulasi.
Untuk penerapan nyata, biaya harus disesuaikan dengan universitas, program
studi, biaya hidup, inflasi, dan nilai tukar.
Jika hanya
mengandalkan tabungan
Apabila Om Pinank mampu menyisihkan Rp10 juta
per bulan selama enam tahun, dana yang terkumpul adalah:
Rp10 juta × 72 bulan = Rp720 juta.
Artinya, masih terdapat kekurangan Rp780 juta
dari target Rp1,5 miliar.
Jika kemampuan menabungnya hanya Rp8 juta per
bulan, dana yang terkumpul menjadi Rp576 juta.
Dari perhitungan sederhana ini, kita dapat
melihat bahwa mengandalkan tabungan saja belum tentu cukup. Karena Om Pinank
memiliki rumah yang sudah lunas, ia dapat mempelajari alternatif pemanfaatan
aset tersebut.
3.
Memaksimalkan Aset melalui Kredit
Rumah yang sudah lunas merupakan aset yang
dapat dipertimbangkan sebagai jaminan kredit. Dalam simulasi ini, kita
mengasumsikan Om Pinank memperoleh kredit sebesar Rp1 miliar dengan jangka
waktu sepuluh tahun.
Jumlah kredit yang sebenarnya tentu bergantung
pada penilaian rumah, kebijakan pemberi kredit, dan kemampuan membayar.
Selanjutnya, kita menggunakan ilustrasi
cicilan Rp13 juta per bulan.
Pertanyaannya, bagaimana cara membayar cicilan
tersebut jika pendapatan Om Pinank hanya Rp20 juta per bulan?
Kita asumsikan Om Pinank mampu mengalokasikan
Rp8 juta per bulan dari pendapatannya untuk membayar cicilan. Dengan demikian,
masih terdapat kekurangan Rp5 juta per bulan.
Di sinilah kita mulai membahas penggunaan ORI.
4. Membeli
ORI untuk Membantu Arus Kas
ORI atau Obligasi Negara Ritel merupakan surat
berharga negara yang dapat dibeli oleh investor individu sesuai ketentuan
penerbitannya.
ORI memberikan kupon berdasarkan tingkat dan
jadwal pembayaran yang telah ditentukan. Untuk memudahkan perhitungan, kita
menggunakan asumsi imbal hasil kupon 6% per tahun.
Apabila dana Rp1 miliar ditempatkan pada ORI
dengan tingkat kupon tersebut, perhitungannya adalah:
- Nilai
investasi: Rp1 miliar.
- Kupon
bruto setahun: Rp60 juta.
- Rata-rata
kupon bruto per bulan: Rp5 juta.
Dengan asumsi tersebut, kekurangan cicilan Rp5
juta per bulan dapat tertutup oleh kupon bruto ORI secara matematis.
Maka susunan arus kasnya menjadi:
- Kontribusi
dari pendapatan keluarga: Rp8 juta per bulan.
- Kupon
ORI: rata-rata Rp5 juta per bulan sebelum pajak.
- Total
dana yang dialokasikan: Rp13 juta per bulan.
- Cicilan
kredit: Rp13 juta per bulan.
Dengan demikian, simulasi tersebut menunjukkan
bagaimana pendapatan keluarga dan hasil investasi dapat digabungkan untuk
membayar cicilan.
Namun, ada satu hal yang perlu diperhatikan.
Kupon bersih ORI lebih kecil setelah pajak. Oleh karena itu, agar benar-benar
seimbang, Om Pinank perlu menyediakan tambahan dana untuk menutup selisih
tersebut atau menyesuaikan asumsi investasinya.
Selain itu, jangka waktu ORI tidak selalu sama
dengan jangka waktu kredit. Ketika ORI jatuh tempo, pokok investasinya perlu
dikelola kembali. Tingkat kupon penerbitan berikutnya juga belum tentu sama.
Untuk menjaga kesederhanaan simulasi, kita menganggap tingkat hasil investasi
tetap, tetapi dalam praktiknya hal ini harus diperhitungkan sebagai risiko.
Yang terpenting, dana pokok investasi tidak
boleh dianggap sebagai uang yang dapat digunakan berulang kali tanpa
konsekuensi. Jika pokok ORI digunakan untuk biaya pendidikan, sumber kupon dari
pokok tersebut tentu akan berkurang atau berhenti.
5. Mengatur
Cash Flow untuk Membayar Biaya Kuliah
Sekarang kita masuk ke persoalan berikutnya.
Misalkan target biaya pendidikan anak adalah
Rp1,5 miliar selama tiga tahun. Apakah seluruh dana tersebut harus tersedia dan
dibayarkan pada hari pertama?
Belum tentu. Pembayaran pendidikan dan biaya
hidup berlangsung mengikuti jadwal tertentu.
Sebagai ilustrasi, kebutuhan dana dapat
direncanakan sebagai berikut:
|
Periode |
Kebutuhan dana |
|
Tahun
pertama |
Rp750 juta |
|
Tahun
kedua |
Rp375 juta |
|
Tahun
ketiga |
Rp375 juta |
|
Total |
Rp1,5 miliar |
Pembagian tersebut hanyalah ilustrasi. Jumlah
sebenarnya perlu disesuaikan dengan jadwal pembayaran universitas dan kebutuhan
hidup anak.
Dengan pembagian waktu ini, kita dapat melihat
bahwa sebagian dana baru diperlukan pada tahun berikutnya. Artinya, pengaturan
arus kas menjadi penting agar dana tersedia ketika dibutuhkan, tanpa harus
menganggap seluruh kebutuhan tiga tahun harus dibayarkan sekaligus.
Namun, perlu diingat bahwa uang yang belum
digunakan tetap harus memiliki sumber yang jelas. Kita tidak boleh mengandalkan
dana yang belum pasti tersedia ketika jatuh tempo pembayaran tiba.
6. Top Up
sebagai Alternatif Tambahan Pembiayaan
Apabila perhitungan menunjukkan masih ada
kekurangan dana, salah satu alternatif yang dapat dievaluasi adalah top up
kredit.
Top up merupakan pengajuan tambahan pembiayaan
atas fasilitas kredit yang sudah ada, jika diperbolehkan oleh pemberi kredit.
Mari kita lihat angka dalam simulasi Om
Pinank.
Dengan kredit awal Rp1 miliar, cicilan Rp13
juta per bulan, dan jangka waktu sepuluh tahun, sisa pokok kredit setelah enam
tahun diperkirakan sekitar Rp516 juta, berdasarkan simulasi cicilan bulanan
dengan tingkat bunga efektif tetap yang menghasilkan cicilan tersebut.
Jika Om Pinank mengajukan top up pada akhir
tahun ketujuh, sisa pokok kredit diperkirakan sekitar Rp405 juta.
Apabila pemberi kredit menyetujui pembiayaan
baru sebesar Rp1 miliar, dana yang tersisa setelah melunasi pokok kredit lama
secara sederhana adalah:
Rp1 miliar − Rp405 juta = Rp595 juta.
Angka ini belum dikurangi biaya administrasi,
biaya penilaian aset, penalti pelunasan apabila ada, dan biaya lainnya.
Persetujuan kredit baru juga tidak otomatis diberikan.
Perhitungan ini menunjukkan bagaimana top up
berpotensi menyediakan dana tambahan. Akan tetapi, top up bukan keuntungan atau
uang gratis. Pinjaman baru tetap harus dibayar, sehingga cicilan dan jangka
waktu berikutnya harus dihitung ulang.
Karena itu, top up hanya layak dipertimbangkan
apabila kemampuan membayar masih memadai dan kebutuhan dana memang belum dapat
dipenuhi melalui sumber lain.
7. Sudah
Tercapai, Tetap Waspada
Jika seluruh rencana berjalan sesuai asumsi,
kombinasi tabungan, pendapatan, investasi, dan pembiayaan dapat membantu
keluarga mempersiapkan pendidikan anak.
Jika anak mendapatkan beasiswa, kebutuhan dana
dapat berkurang. Dana yang tersedia kemudian dapat dialokasikan untuk
pendidikan anak kedua atau kebutuhan keluarga lainnya.
Namun, keberhasilan rencana ini tetap
bergantung pada disiplin pengelolaan keuangan dan kemampuan keluarga
mempertahankan pendapatan.
Orang tua juga perlu mempertimbangkan
perlindungan jiwa, khususnya jika pendapatan utama keluarga berasal dari satu
orang. Asuransi jiwa dapat membantu melindungi keluarga sesuai manfaat dan
ketentuan polis, tetapi tidak semua polis otomatis melunasi kredit dalam setiap
keadaan.
Selain itu, peningkatan pendapatan tetap
penting. Jika pasangan memungkinkan untuk berkontribusi melalui pekerjaan atau
usaha, tambahan pendapatan dapat memperkuat kemampuan keluarga dalam membayar
kewajiban dan membiayai pendidikan anak.
Jangan sampai tujuan menyekolahkan anak justru
menghilangkan seluruh cadangan keuangan keluarga atau membuat rumah tinggal
terancam karena cicilan tidak mampu dibayar.
8. Renungan
dan Analisis
Dari pembahasan ini, kita belajar bahwa
mempersiapkan pendidikan anak tidak selalu cukup dengan menabung. Orang tua
perlu memahami aset yang dimiliki, kemampuan menghasilkan pendapatan, pilihan
investasi, pembiayaan, dan pengaturan arus kas.
Kredit dapat menjadi alat untuk memperoleh
dana lebih awal, sedangkan ORI dapat menghasilkan kupon sesuai ketentuan
penerbitannya. Cash flow management membantu mengatur kapan uang masuk dan
kapan uang harus dikeluarkan. Sementara itu, top up dapat menjadi alternatif
tambahan pembiayaan jika memenuhi persyaratan dan masih terjangkau.
Tetapi semua instrumen tersebut harus dihitung
sebagai satu kesatuan. Jangan hanya melihat dana yang berhasil diperoleh;
perhatikan pula kewajiban yang timbul dan kemampuan membayarnya.
Jika target awal belum tercapai, orang tua
masih dapat mengevaluasi negara tujuan, universitas, program studi, beasiswa,
atau waktu keberangkatan.
Pada akhirnya, keberhasilan bukan hanya
tentang seberapa besar uang yang dapat dikumpulkan, melainkan bagaimana
keluarga menyusun rencana yang sesuai dengan kemampuannya.
Pendidikan anak membutuhkan cita-cita, tetapi
untuk mewujudkannya, cita-cita harus disertai perencanaan, disiplin, dan
perhitungan yang matang.